Tradisi Desa Ngadiluwih Sambut Pemudik Buka Bersama Diatas Daun Pisang
Menu sederhana beralaskan daun pisang disajikan buka bersama menyambut pemudik.
Tema : Budaya | Penulis : Agung Huma | Foto : Agung Huma | Pengunggah : Elisa Siti
"Acara buka bersama on the road ini diadakan setiap akhir Bulan Ramadan, untuk menyambut para perantau," __Jelas Munir, Ketua Panitia Kegiatan Menyambut Pemudik.
KARANGANYAR- Menyambut para perantau mudik dengan buka bersama. Ini menjadi tradisi masyarakat Desa Ngadiluwih, Matesih, Karanganyar. Sedangkan ini disampaikan Munir, Ketua Panitia Kegiatan Menyambut Pemudik.
"Acara buka bersama on the road ini diadakan setiap akhir Bulan Ramadan, untuk menyambut para perantau," jelasnya.
Setidaknya ini mengobati rasa kangen bagi warga yang mudik awal. Termasuk buka bersama ketika merantau tidak sempat melakulan. Bahkan bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi setelah lama tidak ketemu di momentum ini.
"Memberikan kesempatan kepada para perantau menikmati kebersamaan di kampung kami," tandasnya.
Bukber diadakan di depan masjid desa tersebut sepanjang 100 meter. Mereka makan diatas tikar dengan daun pisang sebagai pengganti piringnya. Menu yang disajikan adalah nasi putih, lalapan, trancam (sejenis pecel dengan bumbu sambel kelapa), gereh (ikan asin) dan sambel.
"Lebih ke makanan tradisional yang sering dikangenin warga perantauan," ungkapnya. Sementara itu, Susilowati warga yang merantau ke daerah Tangerang mengaku kangen tradisi ini. Sudah tujuh kali ia mengikuti tradisi ini dikampungnya. Semenjak pandemi dan larangan mudik akhirnya ditiadakan.
"Akhirnya setelah dua tahun tidak merasakan tradisi buka bersama di sini sekarang bisa menikmati tradisi ini lagi," katanya. (*)
Komentar
Posting Komentar