Nrimo lan Legowo Mas Wardi
Tema : Guyon | Penulis : Agung Huma | Foto Ilustrasi : Agung Huma Pengunggah : Elisa Siti | Lokasi : Kamar Sendirian
Legowo, atau istilahnya lebih menerima. Sak ngertiku Ngono. Sebuah perjalanan panjang ketika merasakan sesuatu yang cenderung tidak sesuai hati. Saya tidak mau panjang lebar mengartikannya, tapi ada yang sudah dirasakan Mas Wardi.
" Opo atimu rung terima atas keputusan, kui," tanya Pak Ratno.
" Lah meh kepiye, wis dadi bubur," jawan singkat Mas Wardi.
Dua dialog ini sebagai awalan untuk menyelami Mas Wardi dan upaya selidik Pak Ratno yang juga sebagai kamituwo (kepala dusun) di desa.
" Pak, yen warisan kui sebenarnya hak ku," Kata Mas Wardi.
" trus ?"
" Tapi bapak luwih menei adik adik sing luwih jembar, luas,"
Pak Ratno berusaha mendengar yang diutarakan Mas Wardi. Ungkapan selama ini, Mas wardi ini mengatakan sejak kecil selalu mengalah. Semua dolanan sampai uang THR dari bapaknya lebih banyak adik adiknya. Kamu anak paling gede, ngalah ya mas, kenangnya.
" Itu bukan ngalah yang kamu artikan kalah, itu beda " terang Pak Ratno.
" Apa Pak, sama saja dapate beda," gerutu Mas wardi.
Ngalah kui, isoh diartikan Allah. Yen diwenei kelengkapan atau sandangan Nga. Maka diartikan lebih menuju Gusti Allah atau bisa percaya dengan Gusti Allah apa mau Nya.
" Jadi, bapakmu kui pengen kui nyedak marang Gusti. Yang artine, yen wis cedak, ditresnani Gusti. Ganjarane gede, di," ucap.
Sembari membenarkan sarung, Pak Ratno kembali mengatakan kalau sudah ditresnani Gusti Allah. Kowe njaluk opo keturutan, kabeh wis disiapke, lanjutnya.
" Wis, rausah gelo. Dililokke (direlakan) atimu. Kui anakmu nang ngomah nunggu kowe,"
" iya pak, Njaluk udud mu yow pak,"
" #&@JA slee," jawab Pak Ratno. (*)
Komentar
Posting Komentar